Tafsir QS An-Najm 1-52

Tafsir Ibnu Katsir

Komunikasi dan jurnalistik

Tafsir QS An-Najm 1-52

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah, ia berkata, “Surat yang pertama kali diturunkan yang didalamnya terdapat ayat Sajdah, adalah surat An-Najm. Maka Nabi saw bersujud, lalu orang-orang yang berada di belakang beliau pun ikut bersujud, kecuali satu orang yang aku lihat mengambil segenggam tanah dan bersujud di atasnya, dan setelah itu aku lihat ia terbunuh dengan sebab kekafirannya, yaitu Umayyah bin Khalaf.” Dan telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud serta An-Nasa-i, melalui beberapa jalan dari Abu Ishak. Mengenai ungkapannya (Abdullah) dalam al-Mumtani’ bahwa ia adalah Umayyah bin Khalaf. Maka dalam riwayat ini terdapat musykil atau persoalan, karena ada juga riwayat yang diperoleh selain dari jalan ini menyebutkan bahwa ia adalah ‘Utbah bin Rabiah.
Asy-Sya’bi dan juga ulama lainnya mengatakan : Al-Kholiq (Allah) itu dapat bersumpah dengan makhluk ciptaan-Nya yang Ia kehendaki. Sedangkan makhluq-Nya tidak boleh bersumpah kecuali dengan menyebut nama Sang Pencipta atau Allah saja. Demikian diriwayatkan dalam Ibnu Abu Hatim. Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna firman-Nya, “Demi bintang ketika terbenam.” Dimana Ibnu Abi Najih menceritakan dari Mujahid: “Yang dimaksud dengan An-Najm adalah bintang tujuh (Tsurayya) yang hilang atau jatuh bersamaan dengan terbitnya fajar.” Demikian yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Sufyan Ats-Tsauri, serta menjadi pilihan Ibnu Jarir.
Mengenai firman-Nya, “Demi bintang ketika terbenam.” Adh-Dhahak mengatakan: “Yakni, ketika melempar syetan-syetan dengannya.” Dan pendapat ini mempunyai beberapa sudut pandang.
Dan firman-Nya, “Kawanmu tidak sesat dan tidak pula keliru,” Inilah yang menjadi tujuan sumpah Allah Ta’ala, yaitu kesaksian dari-Nya atas rasul-Nya, Muhammad saw, bahwa beliau adalah seorang yang lurus, mengikuti kebenaran dan bukan orang yang sesat. Yang dimaksud sesat disini adalah orang bodoh yang berjalan tanpa petunjuk dan ilmu pengetahuan. Sedangkan yang dimaksud dengan al-Ghowiy adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi menyimpang darinya kepada selainnya dengan sengaja. Maka Allah Ta’ala mensucikan Rasul dan syariat-Nya dari kesurupan dengan orang-orang sesat seperti pemeluk-pemeluk Nasarani dan Yahudi. Kesurupan itu dalam hal pemilikan ilmu tentang sesutu, lalu menyembunyikannya serta mengerjakan hal yang bertolak belakang dengan apa yang diketahuinya tersebut. Sedang Rasulullah saw dan syariat yang dibawa dari Allah berada di puncak istiqomah, keseimbangan, dan kelurusan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.” Maksudnya, beliau tidak mengucapkan sesuatu, yang bersumber dari hawa nafsu, “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” Artinya, beliau hanya mengatakan apa yang telah diperintahkan kepad beliau dan menyampaikannya kepada umat manusia secara sempurna tanpa melakukan penambahan dan pengurangan. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata “Aku senantiasa menulis setiap apa yang aku dengar dari Rasulullah saw dengan maksud memeliharanya, lalu dilarang oleh kaum Quraisy. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari rasulullah saw, padahal ia hanya manusia biasa (saja) berbicara dalam keadaan marah.’ Maka aku pun berhenti menulis, selanjutnya aku ceritakan hal tersebut kepada Rasulullah saw, maka beliau bersabda: ‘Tulislah demi Robb yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang keluar dari diriku melainkan kebenaran.'” (HR. Abu Dawud). Al-Hafizh Abu Bakar al-Bazar meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Apa yang telah aku kabarkan kepada kalian bahwasanya ia berasal dari sisi Allah, maka itulah yang tidak ada keraguan lagi didalamnya.” Kemudian ia mengemukakan: “Kami tidak meriwayatkan kecuali dengan sanad ini.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari rasul saw, beliau telah bersabda: “Aku tidak berkata kecuali kebenaran.” Sebagian sahabat beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau bergurau dengan kami ya, Rasulullah.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku tidak berkata kecuali kebenaran. Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang hamba dan rasul-Nya, Muhammad saw, bahwa beliau telah diberi pelajaran yang ia bawa kepada umat manusia oleh makhluk yang sangat kuat yaitu Jibril as. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: “Sesungguhnya al-Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (Alam malaikat) lagi dipercaya.” Quran surat At-Takwir ayat 19-21. Dan di sini Allah Ta’ala berfirman: “Yang mempunyai akal yang cerdas.” Yakni, yang mempunyai kekuatan. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, Al-Hasan, Ibnu Zaid. Dalam sebuah hadits disebutkan, dari riwayat Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah, bahwa Nabi saw telah bersabda, “Tidak diperbolehkan memberi sedekah kepada orang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan normal.”
Dan firman Allah Ta’ala, “Dan yang menampakkan diri dengan rupa yang asli,” Yakni Jibril as. Demikian yang dikemukakan oleh Al-Hasan, Mujahid, Qotadah, Ar-Rabi bin Anas. “Sedang ia berada di ufuk yang tinggi.” Yakni Jibril bertempat di ufuk yang tinggi. Demikian yang dikatakan oleh Ikrimah dan beberapa ulama lainnya. Ikrimah mengemukakan: “Ufuk yang tinggi adalah (tempat) yang darinya Subuh datang.” Penglihatan rasulullah saw terhadap Jibril itu tidak terjadi pada malam Isra’, tetapi sebelumnya, ketika itu beliau tengah berada di muka bumi, lalu Jibril as turun dan mendekati beliau sampai benar-benar dekat. Pada waktu itu, Jibril dalam wujud yang telah diciptakan Allah dimana ia mempunyai 600 sayap. Setelah itu beliau melihatnya lagi di Sidratul Muntaha, yaitu pada mawam Isra’. Penglihatan tersebut adalah pemandangan pertama pada awal-awal masa pengutusan setelah beliau didatangi Jibril as pada kali pertama, dan kepadanya diwahyukan beberapa ayat permulaan surat Iqra’ (Al-‘Alaq). Setelah itu wahyu pun terputus dalam beberapa masa, yang pada masa itu pula Rasulullah saw pergi berkali-kali ke puncak gunung hendak menjatuhkan diri. Setiap kali beliau berniat seperti itu Jibril as pun memanggilnya dari udara: “Hai Muhammad, engkau benar-benar utusan Allah, dan aku adalah Jibril.” Maka jiwa beliau menjadi tenang dan pandangan mata beliau pun menjadi sejuk. Kemudian, setiap kali kejadian itu berlangsung lama, beliau mengulangi perbuatannya itu sehingga Jibril menampakkan diri kepada beliau yang ketika itu beliau berada di daerah Abthah dalam wujud aslinya yang telah diciptakan Allah. Ia mempunyai 600 sayap, yang besar masing-masing sayapnya mampu menutupi ufuk. Lalu ia mendekati Nabi dan mewahyukan kepada beliau dari Allah swt tentang apa yang Dia perintahkan. Pada saat itu Rasulullah saw mengetahui keagungan malaikat yang telah datang kepadanya dengan membawa risalah, juga mengetahui kebesaran kekuasaannya serta ketinggian kedudukannya di sisi Penciptanya yang telah mengutusnya kepada beliau.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah, bahwasanya ia pernah berkata: “Rasulullah saw pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya yang ia mempunyai 600 sayap, yang setiap sayapnya telah menutupi ufuk. Dari sayap itu berguguran batu permata, mutiara dan batu mulia yang Allah benar-benar mengetahuinya.”
Demikianlah hadits yang diriwayatkan sendiri oleh Ahmad dan Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan dalam terjemahan ‘Utbah bin Abi Lahab melalui jalan Muhammad dari Hanad bin Al-Aswad, ia berkata: “Abu Lahab dan putranya, ‘Utbah, pernah bersiap-siap berangkat ke Syam, maka aku pun bersiap-siap berangkat bersama keduanya. Lalu putranya, Utbah berkata: ‘Demi Allah, aku akan pergi menemui Muhammad dan menyakitinya berkenaan dengan Robbnya swt.’ Lalu ia berangkat sehingga menemui Nabi saw seraya berkata: ‘Hai Muhammad’ Ia kufur kepada malaikat yang mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah ia dekat (kepada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Maka Nabi saw berucap: ‘Ya Allah, kuasakanlah atasnya seekor anjing dari anjing-anjing-Mu.’ Kemudian ia berpaling dan kembali lagi kepada ayahnya, lalu ayahnya bertanya: ‘Wahai anakku, apa yang telah engkau katakan kepadanya?’ Lalu ia menceritakan apa yang telah terjadi. Maka ayahnya berkata: ‘Apa yang telah diucapkan dari lisannya?’ Anaknya berkata, ‘Ia mengucapkan: ‘Ya Allah kuasakan atasnya seekor anjing dari anjing-anjing-Mu.’ Maka sang ayah berkata: ‘Wahai putraku, demi Allah aku tidak dapat menahan doanya atas dirimu.’ Kemudian kami terus berjalan sampai kami singgah di suatu tempat, lalu kami singgah di tempat ibadah seorang rahib. Maka rahib itu berkata: ‘Wahai bangsa Arab sekalian dimana pun tempat kalian singgah, maka akan berkeliaran di dalamnya singa, sebagaimana berkeliarannya kambing.’ Lalu Abu Lahab berkata kepada kami: ‘Sesungguhnya kalian telah mengetahui usiaku yang sudah lanjut, dan sesungguhnya orang ini (Muhammad) telah mendoakan keburukan kepada putraku. Demi Allah, aku tidak dapat mencegah doanya atas putraku ini. Oleh karena itu, kumpulkan bekal kalian ke tempat ini dan hamparkan hamparan untuk putraku di atasnya. Kemudian hamparkanlah hamparan di sekitar makanan tsb.’ Maka kami pun melakukannya. Tiba-tiba ada seekor singa lalu mencium wajah-wajah kami. Ketika singa itu tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, ia menyingkir dan melompat dengan sekali melompat, tiba-tiba ia sudah berada di atas makanan dan kemudian mencium wajahnya (putra Abu Lahab) dan kemudian menerkamnya dengan sekali terkaman sehingga kepalanya pun tercabik-cabik. Kemudian Abu Lahab berkata: ‘Aku sudah tahu bahwa ia tidak akan lepas dari doa Muhammad.'”

Firman Allah Ta’ala “Maka jadilah ia dekat (kepada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih lebih dekat lagi.” Maksudnya, Jibril mendekati Muhammad setelah ia turun ke bumi sehingga antara dirinya dengan Muhammad sejarak dua busur panah, yakni seukuran dengan keduanya jika dipanjangkan. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qotadah. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah jarak antara tali busur sampai pada badan busur.
Firman-Nya “Atau lebih dekat”, telah dijelaskan sebelumnya shighah (bentuk kalimat) ini digunakan dalam bahasa untuk menetapkan objek yang diberikan serta menafikan yang lebih dari itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala “Kemudian setelah itu, hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS Al-Baqarah:74). Maksudnya, tidaklah hati itu lebih lunak dari batu, bahkan ia seperti batu atau lebih keras lagi. Yang demikian itu merupakan realisasi objek berita tidak ada keraguan dan kebimbangan. Sesungguhnya hal ini dilarang di sini. Demikian juga ayat ini, “Maka jadilah ia dekat kepada Muhammad sejarak dua ujung panah atau lebih dekat lagi.” Apa yang kami katakan ini bahwa yang telah mendekat sehingga jarak antara dirinya dengan Muhammad hanya dua anak panah atau lebih dekat lagi adalah Jibril as. Dan itu pula yang menjadi pendapat Ummul Mukminin Aisyah, Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Abu Hurairah ra. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah berkata: “Muhammad pernah melihat Robbnya dengan mata hatinya sebanyak dua kali.” Kemudian Ibnu Abbas memasukkan ayat ini sebagai salah satu dari dua penglihatan ini. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Asy-Syaibani, ia berkata “Aku pernah bertanya kepada Zara tentang firman Allah Ta’ala: ‘Maka jadilah ia dekat kepada Muhammad sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu ia menyampaikan kepada hambaNya Muhammad apa yang telah diwahyukan.’ Ia berkata ‘Abdullah memberitahu kami bahwa Muhammad saw pernah melihat Jibril as yang mempunyai 600 sayap.'” Berdasarkan apa yang telah kami sebutkan maka firman Allah: “Lalu ia menyampaikan hambanya (Muhammad) apa yang telah diwahyukan,” Maknanya, Jibril mewahyukan kepada hamba Allah, Muhammad saw apa yang seharusnya ia sampaikan, maka Allah memberikan wahyu kepada hamba-Nya Muhammad saw melalui Jibril as. Kedua makna tersebut shahih. Telah disebutkan dari Said bin Zubair mengenai firman Allah Ta’ala “Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan,” Ia berkata: “Maka Allah SWT mewahyukan kepadanya: ‘Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?’ (QS. Adh-Dhuha:6). ‘Dan kami tinggikan bagimu sebutan namamu.’ (QS Asy-Syarh:4).” Selainnya berkata: “Allah mewahyukan kepada beliau bahwa surga itu diharamkan bagi para Nabi sehingga engkau memasukinya dan juga bagi semua umatmu memasukinya.” Dan firman-Nya: “Artinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka, apakah kamu (kaum musyrikin Mekkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?” Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril as itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.” Ia mengatakan: “Beliau melihatnya dengan mata hatinya dua kali.” Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan : “Muhammad pernah melihat Robbnya.” Aku bertanya: “Bukankah Allah telah berfirman: ‘Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu.'” (QS Al-An’am:103). Ia mengatakan: “Celaka engkau. Yang demikian itu jika Dia menampakkan diri dengan cahaya-Nya yang merupakan cahaya-Nya. Dan beliau itu telah melihat Robbnya sebanyak dua kali.” Lebih lanjut At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits tersebut hasan gharib.” Imam An-Nasa’i meriwayatkan, Ishaq bin Ibrahim memberitahu kami dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: “Apakah kalian heran dengan gelar Al-Khullah (kekasih) yang diberikan kepada Ibrahim dan al-Kalam (pembicaraan langsung) yang diberikan kepada Musa dan Ar-Ru’yah (penglihatan kepada-Nya) yang diberikan kepada Muhammad saw.” Dan dalam kitab Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Dzar, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah aw: ‘Apakah engkau pernah melihat Robbmu?’ Beliau menjawab: ‘(Dalam bentuk) Cahaya, sesungguhnya aku telah melihatnya.'” Dan dalam riwayat lain disebutkan: “Aku melihat cahaya.” Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: ‘Aku telah melihat Robbku.'” Hadits tersebut sanadnya berdasarkan syarat shahih, tapi ia merupakan ringkasan hadits Al-Manam, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dan Firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. Yaitu di Sidratul Muntaha. Didekatnya ada surga tempat tinggal.” Dan itulah kali yang kedua, dimana Rasulullah saw melihat Jibril dalam bentuknya yang asli seperti yang diciptakan Allah Ta’ala dan itu terjadi pada malam Isra’. Dan kami telah menyebutkan beberapa hadits berkenaan dengan masalah Isra’ ini dengan jalan dan lafaz-nya masing-masing di awal surat Al-Isra sehingga tidak perlu diulang lagi disini. Dan telah dikemukakan pula bahwa Ibnu Abbas ra menegaskan ru’yah pada Isra’ dan memperkuatnya dengan ayat ini lalu diikuti oleh ulama salaf dan khalaf. Namun ditentang juga oleh beberapa kelompok sahabat, tabi’in, dan lain-lain. Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Masruq, ia berkata: “Aku pernah berada di sisi Aisyah lalu kutanyakan: ‘Bukankah Allah telah berfirman: ‘Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.’ Lalu Aisyah menjawab: ‘Aku adalah orang pertama dari umat ini yang menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw, maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya ia adalah Jibril.'” Dan Rasulullah saw tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya kecuali hanya dua kali saja. Beliau melihatnya turun dari langit ke bumi. Bentuk ciptaannya yang besar telah menutupi ruang antara langit dan bumi. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih keduanya. Imam Ahamd meriwayatkan dari Abdullah bin Syuqoq, ia berkata: “Aku pernah berkata kepada Abu Dzar: ‘Seandainya aku melihat Rasulullah niscaya aku akan bertanya kepadanya.’ Ia bertanya ‘Apa yang akan engkau tanyakan kepada beliau?’ Ia menjawab: ‘Aku akan menanyakan kepada beliau apakah beliau pernah melihat Robbnya Azza wa Jalla.’ Lalu ia (Abu Dzar) berkata: ‘Sesungguhnya aku telah menanyakan hal itu kepada beliau dan beliau menjawab, ‘Aku sudah pernah melihatnya (dalam wujud) cahaya, maka sungguh aku melihatnya.'” Demikianlah yang ada dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Muslim telah meriwayatkannya melalui dua jalan dan dua lafaz. Ia meriwayatkan dari Abu Dzar, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah: ‘Apakah engkau telah melihat Robbku?’ Beliau menjawab: ‘(dalam wujud) cahaya, sesungguhnya aku telah melihatnya.'” Dan ia telah meriwayatkan dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata: “Aku pernah katakan kepada Abu Dzar: ‘Seandainya aku sempat melihat Rasulullah saw, niscaya aku akan bertanya kepada beliau.’ Maka Abu Dzar bertanya: ‘Tentang masalah apa yang akan engkau tanyakan?’ Ia menjawab: ‘Aku akan menanyakan: ‘Apakah engkau telah melihat Rabbku?’ Abu Dzar berkata: ‘Aku telah tanyakan hal itu kepada beliau, maka beliau menjawab, ‘Aku telah melihat cahaya.'” Dalam meng-ilalnya, Khollal telah menyebutkan bahwa Imam Ahmad pernah ditanya tentang hadits ini maka ia menjawab: “Aku telah mengingkarinya dan aku tidak mengetahui sisinya.”
Firman Allah Ta’ala “(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.” Telah diuraikan di dalam hadits-hadits tentang Isra’, bahwa Sidratul Muntaha itu diliputi oleh para Malaikat seperti burung-burung gagak, dan diliputi pula oleh cahaya Rabb serta aneka warna yang aku sendiri tidak tahu apakah itu?” Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata “Ketika Rasulullah saw di-isra-kan hingga ke Sidratul Muntaha yaitu langit ketujuh disanalah batas akhir sesuatu yang dinaikkan dari bumi, kemudian diambil sesuatu dari sana. Di sanalah batas akhir sesuatu yang turun dari tempat yang ada di atas Sidratul Muntaha, kemudian diambillah sesuatu itu dari sana.”
Ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.” Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa ia berupa permadani dari emas. Lebih lanjut ia berkata: “Telah diberikan kepada Rasulullah saw tiga hal, shalat lima waktu, beberapa ayat terakhir surat al-Baqarah, dan ampunan bagi seseorang antara umatnya yang tidak mempersekutukan Allah dengan selain-Nya atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan tanpa berfikir terlebih dahulu.” Hadits ini hanya diriwaytkan oleh Muslim sendiri.
Firman Allah Ta’ala “Penglihatanmu (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya.” Ibnu Abbas mengatakan, “Pandangan beliau tidak melihat ke kanan dan ke kiri. Dan tidak pula melampauinya.” Maksudnya ia tidak melampaui batas yang diperintahkan kepada beliau. Ini merupakan sifat agung dari ketepatan hati dan ketaatan beliau, karena beliau tidak berbuat kecuali apa yang telah Allah perintahkan kepadanya dan tidak pula meminta lebih dari apa yang Allah perintahkan. Sungguh indah ungkapan salah seorang
penyair :
Ia melihat Surga Ma-wa dan segala yang ada diatasnya.
Seandainya orang lain melihat apa yang telah dilihatnya, niscaya ia tinggi hati.”
Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya ia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Rabbnya yang paling besar.” Sebagaimana firman-Nya “Untuk kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami.” (QS Al-Isra:1). Yakni, tanda-tanda yang menunjukkan kepada Kekuasaan dan Keagungan Kami. Kedua ayat diatas dijadikan dalil oleh Ahlus Sunnah yang berpendapat bahwa ru’yah (melihatnya Nabi kepada Rabb) pada malam itu tidaklah terjadi.
Karena Allah Ta’ala telah berfirman “Sesungguhnya ia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Rabb-nya yang paling besar.” Seandainya Nabi melihat Rabb-nya, niscaya hal itu akan diberitahukan kepada umat manusia, dan pastilah hal itu akan diperbincangkan banyak orang. Penegasan mengenai hal itu telah diuraikan sebelumnya dalam surat Al-Israa’.

BIOGRAFI IBNU KATSIR

Nama Lengkap

Nama lengkap beliau adalah Abul Fida’, Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi ad-Dimasyqi, lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Beliau lahir pada tahun 701 H di sebuah desa yang menjadi bagian dari kota Bashra di negeri Syam. Pada usia 4 tahun, ayah beliau meninggal sehingga kemudian Ibnu Katsir diasuh oleh pamannya. Pada tahun 706 H, beliau pindah dan menetap di kota Damaskus.

Riwayat Pendidikan

Ibn Katsir tumbuh besar di kota Damaskus. Di sana, beliau banyak menimba ilmu dari para ulama di kota tersebut, salah satunya adalah Syaikh Burhanuddin Ibrahim al-Fazari. Beliau juga menimba ilmu dari Isa bin Muth’im, Ibn Asyakir, Ibn Syairazi, Ishaq bin Yahya bin al-Amidi, Ibn Zarrad, al-Hafizh adz-Dzahabi serta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Selain itu, beliau juga belajar kepada Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mizzi, salah seorang ahli hadits di Syam. Syaikh al-Mizzi ini kemudian menikahkan Ibn Katsir dengan putrinya.

Selain Damaskus, beliau juga belajar di Mesir dan mendapat ijazah dari para ulama di sana.

Prestasi Keilmuan

Berkat kegigihan belajarnya, akhirnya beliau menjadi ahli tafsir ternama, ahli hadits, sejarawan serta ahli fiqih besar abad ke-8 H. Kitab beliau dalam bidang tafsir yaitu Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjadi kitab tafsir terbesar dan tershahih hingga saat ini, di samping kitab tafsir Muhammad bin Jarir ath-Thabari.

Para ulama mengatakan bahwa tafsir Ibnu Katsir adalah sebaik-baik tafsir yang ada di zaman ini, karena ia memiliki berbagai keistimewaan. Keistimewaan yang terpenting adalah menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an (ayat dengan ayat yang lain), menafsirkan al-Qur’an dengan as-Sunnah (Hadits), kemudian dengan perkataan para salafush shalih (pendahulu kita yang sholih, yakni para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in), kemudian dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.

Karya Ibnu Katsir

Selain Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, beliau juga menulis kitab-kitab lain yang sangat berkualitas dan menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya, di antaranya adalah al-Bidayah Wa an-Nihayah yang berisi kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, Jami’ Al Masanid yang berisi kumpulan hadits, Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits tentang ilmu hadits, Risalah Fi al-Jihad tentang jihad dan masih banyak lagi.

Kesaksian Para Ulama

Kealiman dan keshalihan sosok Ibnu Katsir telah diakui para ulama di zamannya mau pun ulama sesudahnya. Adz-Dzahabi berkata bahwa Ibnu Katsir adalah seorang Mufti (pemberi fatwa), Muhaddits (ahli hadits), ilmuan, ahli fiqih, ahli tafsir dan beliau mempunyai karangan yang banyak dan bermanfa’at.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata bahwa beliau adalah seorang yang disibukkan dengan hadits, menelaah matan-matan dan rijal-rijal (perawinya), ingatannya sangat kuat, pandai membahas, kehidupannya dipenuhi dengan menulis kitab, dan setelah wafatnya manusia masih dapat mengambil manfa’at yang sangat banyak dari karya-karyanya.

Salah seorang muridnya, Syihabuddin bin Hajji berkata, “Beliau adalah seorang yang plaing kuat hafalannya yang pernah aku temui tentang matan (isi) hadits, dan paling mengetahui cacat hadits serta keadaan para perawinya. Para sahahabat dan gurunya pun mengakui hal itu. Ketika bergaul dengannya, aku selalu mendapat manfaat (kebaikan) darinya.

Akhir Hayat

Ibnu Katsir meninggal dunia pada tahun 774 H di Damaskus dan dikuburkan bersebelahan dengan makam gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Meski kini beliau telah lama tiada, tapi peninggalannya akan tetap berada di tengah umat, menjadi rujukan terpercaya dalam memahami Al Qur’an serta Islam secara umum. Umat masih akan terus mengambil manfaat dari karya-karyanya yang sangat berharga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s